Hidup adalah pilihan

Hidup itu pilihan. selalu dihadapkan pada 1 atau lebih pilihan mulai dari bangun tidur sampai kita tidur lagi. Kadang kita berhadapan dengan berbagai pilihan yang semuaaanya enak.. misalnya hari minggu, bangun tidur kita dihadapkan pilihan mau nyantai-nyantai aja dulu ditempat tidur, atau jogging sambil cari sarapan. Atau sebaliknya kedua-duanya tidak enak. Misalnya dikelas, kita dihadapkan pada pilihan, jika tidak mengerjakan tugas, nanti dimarahin guru, tapi kalo ngerjain tugas, dibilang gak kompak dengan teman-teman yang sepakat gak ngerjain PR; atau juga pilihan itu kombinasi keduanya ada yang enak dan gak enak. Kalo begini, tentu kita akan memilih yang enak kan🙂

Pilihan

Dalam hidup ini, seringkali kita menemui pilihan yang ke-2 yaitu semua pilihannya sulit. Meski sering kita merasa pilihan ini tidak adil, tapi yakinlah itu sudah ada yang menentukan. Sudah ada yang menskenariokannya. Tidak ada yang kebetulan didunia ini. Bahkan saat daun memilih untuk gugur dari rantingnya pun itu bukan kebetulan. Jadi nikmati saja pilihan itu.

Saat pertama memulai kuliah disinipun, saya mempunyai 2 pilihan yang sama beratnya: idealis untuk tamat tepat waktu dengan belajar tekun tanpa ada kegiatan tambahan, atau saya focus dengan berobat saya dan menomor duakan sekolah saya. Keduanya bagi saya sangat sulit. Pilihan pertama karena saya dosen, jadi harus menunjukkan teladan tepat waktu kepada mahasiswa saya. Sedangkan berobat berarti akan memberikan kecenderungan ketidak stabilan emosi dan kesehatan. Pilihan kedua, karena umur saya sudah hampir 35 kala itu, usia perbatasan menurunnya tingkat kesuburan seorang wanita, jadi berobat adalah keharusan bagi saya dan artinya itu akan mengesampingkan sekolah saya. Tapi pilihan harus dijatuhkan, dan pilihan saya adalah berobat. Meski akhirnya ternyata pilihan saya tidak memberi hasil yang memuaskan, tapi saya ikhlas karena pilihan itu melalui diskusi panjang dengan suami dan tak lupa berdoa mohon petunjuk kepada NYA.

Saat akhirnya pilihan itu jatuh pada point 2, saya harus merelakan idealism saya untuk tamat tepat waktu. Terhitung selama 3 tahun saya disini, sudah berbagai macam obat dan suntikan masuk ketubuh saya. Mulai dari sekedar mengkonsumsi obat hormon yang membuat rasa mual dan mau muntah, operasi laparaskopi yang membuat tiga tanda diperut, 2 kali IUI dan 2 kali IVF dengan total seratusan kali jarum suntik yang masuk ke badan. Semuanya berakhir dengan uraian air mata.

Jika sedang dalam kondisi yang tidak baik, kadang saya merasa sudah menyia-nyiakan saja waktu saya, dengan usaha yang tidak ada hasilnya. Apalagi melihat beberapa teman seangkatan sudah mulai start writing their thesis. Sedih sekali rasanya, merasa tertinggal, merasa sangat bodoh, merasa menyia-nyiakan waktu, sampai kadang saya menangis. Tapi bila kemudian saya ingat bahwa segala sesuatu dinilai Allah dari usaha kita, maka saya kemudian akan sadar kembali bahwa semuanya sudah ada yang mengatur.

Pilihan2

Tak usah risau dengan segala sesuatu, yang penting kita tetap berusaha keras. Bila sudah rejeki saya untuk meraih gelar phd, Insya Allah akan tersampaikan. Bila sudah rejeki kami untuk mendapatkan keturunan, Insya Allah akan dapat. Tak usah risau dengan biaya. Karena dimana ada usaha maka disitupun ada jalannya. Terbukti selama ini kami ada saja rejeki yang mengalir kekantong kami untuk terus berobat, meski kami sedang sekolah saat ini, begitu juga untuk biaya kami sekolah. Jadi kenapa risau?? Hadapi saja setiap pilihan hidup dengan tawakal pada Allah sahaja.

== saat galau melihat satu persatu rekan mulai persiapan viva😦 ==

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s