Hidup sederhana VS kehidupan sederhana

Dua kata diatas, hampir memiliki arti yang serupa, yaitu keadaan hidup yang biasa-biasa saja, tidak mewah apalagi berlebihan. tapi sebenarnya, ada perbedaan yang cukup significant (menurut saya) dari kedua phrase ini. Semuanya mengandung  kebaikan,  jika diterima dengan ikhlas.

Kehidupan sederhana lebih kepada kita hidup sederhana bukan karena kehendak kita, namun  memang keadaan ekonomi kita yang tidak memungkinkan untuk hidup berkecukupan sehingga kita hidup apa adanya saja. Sebaliknya hidup sederhana bisa diartikan kita memiliki hidup yang berkecukupan tapi lebih memilih untuk hidup sederhana. artinya kapanpun kita bisa meninggalkan hidup sederhana itu.

Harus hidup sederhana beda sekali kondisinya dengan memilih untuk hidup sederhana. Saat saya dikampung halaman saya, kami punya pilihan untuk hidup. Sehingga meskipun kami hidup tidak berlebihan, tapi kami masih bisa jalan-jalan ataupun makan-makan di mall atau dimanapun,   kapanpun kami mau.

Setelah disini, jelas saja keuangan kami tidak selancar dulu. Gaji kami yang dipotong, tidak ada kelebihan ngajar, dan tidak ada peluang bisnis adalah salah satunya. Kami harus pandai-pandai mengatur skala prioritas, agar keuangan kami tidak jebol.

Salah satunya adalah menahan diri untuk sering-sering keluar dari kampus dan memaksimalkan fasilitas kampus sebagai sarana rekreasi gratis, seperti memberi makanan ke ikan-ikan di taman tasik dan jogging di track yang sudah disediakan di taman ini. gym di sukan, atau sekedar jalan-jalan di pagi sabtu dan minggu melihat burung2, rusa dan hewan2 liar lainnya sembari belajar photographi.

usaha lainnya adalah mengatur pola makan. Dulu hampir setiap hari kami makan diluar. Dari pagi hingga malam hari, kalo saya hitung-hitung pengeluaran kami untuk makan saja lebih dari 100 rb. Belum lagi kebutuhan dasar untuk dapur. Setelah disini. Saya jadi rajin masak. Makan pagi biasanya roti, makan siangnya saya masak, sedangkan untuk makan malam kami lebih memilih makan-makanan tidak padat seperti mie tumis/kuah, kue ataupun gorengan yang juga sering saya buat sendiri. Hasilnya lumayan. Dalam seminggu, saya hanya menghabiskan lebih kurang 100 rm saja, setara dengan 300 rupiah untuk semuanya.

Awalnya, keadaan ini agak menyiksa kami. yang biasanya kami hampir tiap hari jjs ke mall, sekarang hanya 1 minggu sekali. yang biasanya kami memiliki persediaan berbagai jenis snack, eskrim dan coklat dirumah, sekarang kami hanya bisa menstocknya diawal bulan saja itupun dengan jumlah yang sangat terbatas. yang biasanya kami jajan diresto atau dikafe, sekarang hanya di kedai, itupun satu minggu sekali. tapi lama-lama kamipun terbiasa. ternyata setelah dijalani, tidak terlalu sulit untuk hidup hemat. Efek samping lain yang kami rasakan adalah, badan tidak terlalu berat jika diajak berjalan kaki. Dari pertama kali kami sampai disini, berat badan kami sudah turun minimal 5 kg. Kami pun jadi lebih menghargai bahan makanan, tidak asal membuang, semua bahan, sekecil apapun bisa dimanfaatkan untuk menjadi sebuah makanan yang sehat.

Semoga kebiasaan baik ini bisa kami bawa terus sampai nanti, saat kami kembali kehabitat awal kami disana ^_~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s