Warna-warni kuliah di malaysia

Kuliah di malaysia ternyata bukan hanya membuat kami menghadapi masalah studi saja. tapi ada beberapa permasalahan sosial lainnya yang mau tidak mau harus kami hadapi disini..

selain permasalahan beasiswa yang tak kunjung kami dapatkan dari pemerintah pusat dgn alasan kami kuliah dimalaysia, dimana PT nya dianggap tidak berkualitas (alasan yg tidak masuk akal bila kita rendah hati mau mengakui kelebihan orang lain).

Ada juga beberapa rekan, teman, petinggi2 di tempat kami kerja maupun pejabat di dikti yang sedikit mencibir (atau banyak ya.. ? gak tau deh), intinya mereka tidak respek terhadap kami yang kuliah di malaysia.

Belum lagi bila bertemu dengan orang – orang setempat yang tidak menyukai indonesia dikarenakan sikap warga indonesia terhadap malaysia. seringkali mereka menunjukan sikap yang tidak bersahabat. ini akan menjadi masalah bila ternyata yang tidak suka itu adalah kaki tangan kerajaan (PNS)  yg ditempatkan di UTM. bakalan runyam urusan kita. untunglah meskipun begitu, banyak juga yang sangat menghargai student2 yang berasal dari indonesia, dan memberikan banyak kemudahan bagi kami.

Selain itu ada masalah sosial lain yang telah menunggu kami,  TKI/TKW di malaysia pada umumnya dan wilayah johor pada khususnya, mau tidak mau menjadi “sosial problem” bagi mahasiswa muslim disini.

Sebenarnya dilema bila berbicara tki/tkw yang disiksa oleh majikannya. karena persoalan ini sebenarnya bukan hanya terjadi dimalaysia saja. Tapi juga diseluruh negara tempat disalurkannya TKI/TKW. tapi mungkin karena malaysia adalah negara tetangga kita, maka persoalan ini menjadi sangat kentara dan sering kali menjadi bumerang bagi kita yang ada disini.

Seperti kejadian di wilayah johor bahru. jika kita berkesempatan berkunjung ke KJRI di johor bahru, maka kita akan bertemu dengan belasan sampai puluhan tki/tkw bermasalah yang silih berganti ditampung disini. Mereka ditampung disini karena masih memiliki permasalahn dengan majikan mereka, sehingga belum diijinkan pulang oleh pihak  kjri. Ada banyak permasalahan yang membuat mereka tertahan disana, belum menerima gaji sampai beberapa bulan, atau bahkan dari awal mereka bekerja, disiksa oleh majikan, dihamili sampai mereka melahirkan tanpa pertanggungjawaban dll.. , meskipun kita juga tidak boleh secara langsung menglobalisasikan bahwa yang melakukannya adalah orang malaysia. karena setelah disini saya baru mengetahui bahwa dimalaysia ada 3 ras yang jumlahnya hampir sama. yaitu melayu, india dan cina.. dan rata-rata, sepengetahuan saya, yang sering melakukan penyiksaan terhadap pembantu atau pemerkosaan adalah ras india dan cina. selain itu memang dari keterangan beberapa teman, tkw kita juga banyak membuat masalah untuk diri mereka sendiri seperti bergaul bebas dengan lawan jenis terutama dengan etnis timur tengah dan cina.. sehingga mengakibatkan kehamilan.

Untuk masalah yang terakhir, mau tak mau hal ini mengusik hati nurani kita. kadang saya sangat kesal dengan pemerintah kita, kenapa mereka tidak bisa melindungi warganya yang ada diluar negeri. tapi kalo mengingat jumlah penduduk yang banyak, saya terkadang memakluminya. tapi kadang juga tidak mau memakluminya, sebab cina yang jumlah penduduknya 5 kali lebih banyak dari kita, tetap mampu melindungi warganya..

Beruntung sejak 6 tahun yang lalu, ada beberapa orang pelajar pendahulu yang membuat sebuah ikatan keluarga muslim indonesia. mereka bahu membahu memberikan sumbangsih dengan mengumpulkan anak-anak kilang (sebutan untuk pekerja diperusahaan) yang ada di sini untuk aktif mengikuti majelis taklim dan kegiatan-kegiatan keislaman lainnya. Meskipun tempat-tempatnya sangat jauh dari UTM. Kadang saya gak bisa menebak, bagaimana mereka mengumpulkan tki/tkw kita sampai kepelosok-pelosok.tujuannya tiada lain adalah untuk memantau keamanan mereka dan menjaga ruhiah mereka sehingga tidak terjerumus ke kehidupan yang kurang baik.

Memang tidak semua yang bisa terekrut. karena masih banyak anak2 yang enggan bergabung dengan yang berlabel keislaman. Selain itu mereka juga tidak bisa menjamah para pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah-rumah penduduk, terutama bila penduduk tersebut adalah ras cina ataupun tamil. sebenarnya sektor pembantu rumah tangga inilah yang rentan sekali teraniaya oleh majikannya. karena tidak ada yang bisa memantau keamanan mereka. bila saja pemerintah kita bisa membuat peraturan untuk mengumpulkan mereka sebulan sekali saja untuk melihat dan memantau keamanan mereka, saya yakin, majikan mereka pun tidak berani berbuat macam-macam.Tidak perlu diberikan HP kepada mereka, sebab pada saat mereka tiba dirumah majikannya, HP mereka akan segera disita oleh majikan mereka. Sehingga malah pengadaan hp itu akan menjadi pemborosan bagi negara tapi tujuan sesungguhnya tidak tercapai.

Tapi, menurut teman saya yang membawa PRT dari Indonesia, Alhamdulillah sekarang bila kita akan menggunakan jasa PRT, aturannya sangat ribet. banyak surat perjanjian yang harus kita tanda tangani di kerajaan. sehingga diharapkan akan mengurangi resiko terlantarnya para pembantu. Tinggal dari negara kitanya sendiri jangan sampai meloloskan TKW dan TKI yang ilegal, karena kalo ilegal maka keselamatan mereka tidak ada jaminannya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s