Boikot

Jajanan Boikot Tapi Halal Vs Jajanan Nikmat Tapi Belum Bisa Ditentukan Kehalalannya…

Penyerangan israel terhadap palestina 3 minggu terakhir, akhirnya membangkitkan kembali ingatan kita tentang pemboikotan produk-produk amerika yang disinyalir telah banyak membantu pendanaan israel dalam pembantaian muslim palestina.

Salah satu pemboikotan yang paling sering diperdengarkan adalah pemboikotan terhadap produk makanan jajanan terkenal seperti A&W, KFC, Pizza Hut, dan MC Donald. Pemboikotan terhadap beberapa makanan tersebut beberapa waktu yang lalu di Indonesia, sedikit banyak telah mempengaruhi jumlah penjualan produk tersebut.

Tapi, seiring berjalannya waktu, ingatan orang-orang terhadap pemboikotan tersebut menjadi hilang. Sehingga antrian orang-orang untuk membeli jajanan tadi semakin lama semakin panjang. Mengalahkan jajanan-jajanan sejenis milik pribumi kita.

Saya sendiri pun termasuk orang-orang yang hampir melupakan pemboikotan tersebut. Salah satu penyebabnya adalah pertimbangan saya untuk mengkonsumsi hanya makanan yang jelas kehalalannya saja. Saya dan suami belum memiliki momongan. Jadi termasuk orang yang sering makan diluar karena saya males masak..🙂

Didaerah saya, palembang, tempat jajanan yang mencantumkan logo sertifikat halal hanyalah jajanan produk-produk Amerika . Jadi meskipun kita memboikot, tapi mereka memiliki sertifikat halal resmi dari MUI dan ditempel di kaca pintu masuk mereka. Sedangkan tempat jajanan lain seperti resto dan kafe, baik yang ada di Mall atau ditempat-tempat lainnya tidak memiliki sertifikat halal tersebut. Mereka hanya bertameng bahwa yang memasak adalah orang islam atau menyatakan halal karena tidak ada daging babi meskipun yang memasak non muslim. Namun pernyataan halal tidak hanya sebatas itu. Mereka seharusnya memiliki pernyataan halal resmi yang dikeluarkan oleh MUI sebagai lembaga yang dipercaya pemerintah untuk melindungi konsumen muslim.

Saya sudah searching di internet untuk melihat persyaratan bagaimana step-step mengurus sertifikat MUI dan berapa biayanya. Apakah ada perbedaan biaya pengurusan untuk usaha kecil dan yang telah menjadi besar. Tapi sampai sekarang belum ketemu. Kami pernah berpikir, kenapa MUI sebagai lembaga yang dipercaya pemerintah tidak mengambil langkah jemput bola. Artinya mereka yang proaktif untuk mengajak pengusaha terutama pengusaha yang berhubungan dengan makanan untuk mengurus sertifikat halal. Apakah terhambat dengan pembiayaan ? kenapa pemerintah tidak membiayai ?

Jika terhambat masalah biaya, kenapa tidak mengkolektifkan saja pengurusan sertifikat tersebut perzona. Dalam satu buah mall, mungkin usaha yang berbentuk kafe dan resto berjumlah lebih dari sepuluh. Nah dari sejumlah kafe tersebut, mungkin bisa ck-ck untuk membiayai MUI untuk mengurus kehalalan produk mereka.

Dengan begitu, saya kira alternatif tempat jajanan menjadi lebih banyak. Dan tanpa harus memboikot, kita sendiri sudah bisa mengurangi bahkan meninggalkan produk makanan amerika, karena kafe dan resto kita pun tak kalah cita rasanya dengan produk luar.

One thought on “Boikot

  1. ya benar sekali..sangat miris memang…resto cepat saja yang sering kita ributkan selama ini tapi mereka dengan dengan JELAS telah mempunyai sertifikat HALAL.

    terbalik dengan resto-resto lokal yang notabene pegawainya orang pribumi tidak mempuyai sertifikat halal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s